Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

PACARAN DALAM PANDANGAN ISLAM

     Menurut Kamus Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.
     Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Dalam pacaran, ada aktivitas yang disebut dengan kencan. Aktivitas ini berupa kegiatan yang telah direncana maupun tak terencana.

      Tradisi pacaran memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi dalam masyarakat individu-individu yang terlibat. Dimulai dari proses pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan afeksi yang ekslusif. Perbedaan tradisi dalam pacaran, sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut oleh seseorang. Berdasarkan tradisi zaman kini, sebuah hubungan dikatakan pacaran jika telah menjalin hubungan cinta-kasih yang ditandai dengan adanya aktivitas-aktivitas seksual atau percumbuan (id.wikipedia.org/)
      Menurut kompas.com (Minggu, 13 Juni 2010) — Komisi Nasional Perlindungan Anak merilis data bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film forno. Survei KPA ini dilakukan terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar seluruh Indonesia.
      Kalaulah definisi pacaran seperti yang dijelaskan diatas dengan menjurus pada kemaksiatan dan berbuah prilaku seperti hasil Survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) diatas, maka hal itu tidak diperbolehkan, agama islam melarang/ mengharamkan hal semacam ini.
      Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak ada satu kalimatpun yang menjelaskan tentang pacaran. Dalam Islam hanya ada khitbah (tunangan). sebelum terjadi khitbah, di dalam Islam dianjurkan untuk berta’aruf (berkenalan) itupun seandainya jika kita sudah siap untuk nikah.
      Pacaran Bukanlah Penjajakan/ Perkenalan, kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar, apalagi kalau berprilaku seperti hasil survey KPA diatas.
      Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661).
      Islam membenarkan ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui karakter/ sifat yang bersangkutan ( pada masa ta’aruf). Maka dalam masa ini, peran/ keterlibatan orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting. Istilah ta’aruf sebelum pernikahan sebagai instrument untuk mengenal calon pendamping dengan batasan-batasan syara’ harus dijaga, Tujuan ta’aruf disini adalah sebatas untuk mengenal karakter calon pasangan, bukan untuk pergi berduaan tanpa ditemani mahram atau keluarga. Ketentuan ini tetap berlaku sebelum terjadi pernikahan. Hadist Rasulullah saw. menegaskan “ Tidaklah diperkenankan bagi laki-laki dan perempuan untuk berkhalwat (berduaan), karena sesungguhnya ketiga dari mereka adalah syetan, kecuali adanya mahram.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim).Yang penting dari masa ta’aruf adalah saling mengenal antara kedua belah pihak, saling memberitahu keadaan keluarga masing-masing, saling memberi tahu harapan dan prinsip hidup, saling mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai, dan seterusnya. Kaidah-kaidah yang perlu dijaga dalam proses ini intinya adalah saling menghormati apa yang disampaikan lawan bicara, mengikuti aturan pergaulan Islami, tak berkhalwat, tak mengumbar pandangan.
      Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud untuk menikahinya dalam waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, dilarang seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, merayu, memandang dengan nafsu, dan melakukan selayaknya suami istri. Untuk itu dianjurkan sering melakukan puasa sunnat, sebagai perisa baginya, Rasulullah saw bersabda : “Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah saw mengatakan kepada kami: Hai sekalian pemuda, barang siapa diantara kamu yang telah sanggup melaksanakan akad nikah, hendaklah melaksanakannya. Maka sesungguhnya melakukan akad nikah itu (dapat) menjaga pandangan dan memlihar farj (kemaluan), dan barangsiapa yang belum sanggup hendaklah ia berpuasa (sunat), maka sesunguhnya puasa itu perisai baginya” (muttafaq alaih)

Etika pergaulan dalam islam, antara lelaki dan perempuan garis besarnya adalah sebagai berikut:
  1. Saling menjaga pandangan di antara laki-laki dan wanita, tidak boleh terlihat aurat, tidak boleh memandang dengan nafsu dan tidak boleh melihat lawan jenis melebihi apa yang dibutuhkan. (An-Nur:30-31)
  2. Sang wanita wajib memakai pakaian yang sesuai dengan syari'at, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh selain wajah, telapak tangan dan kaki (An-Nur:31)
  3. Hendaknya bagi wanita untuk selalu menggunakan adab yang islami ketika bermu'amalah dengan lelaki, seperti:
    • Di waktu mengobrol hendaknya ia menjahui perkataan yang merayu dan menggoda (Al-Ahzab:32)
    • Di waktu berjalan hendaknya wanita sesuai dengan apa yang tertulis di surat (An-Nur:31 & Al-Qashash:25)
  4. Tidak diperbolehkan adanya pertemuan lelaki dan perempuan tanpa disertai dengan muhrim. 

Islam  memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam
hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri. Di antara batasan-batasan tersebut ialah:
1.   Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina.
            Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina: sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra: 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kamu pada perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.

2.  Tidak menyentuh perempuan yang bukan mahramnya
       Rasulullah SAW bersabda, “Lebih baik memegang besi yang panas daripada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). ”

3.  Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya
      Dilarang laki dan perempuan yang bukan mahramnya untuk berdua-duan.
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak mahramnya, karena ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad)

4.   Harus menjaga mata atau pandangan
Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu  Allah berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka…..Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka…” (QS. An-Nur: 30-31). Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu.

5.   Menutup aurat
Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai “make up” dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi masuk surga)

Disarikan dari:
1. Ibnu qayyim al jauziyah “jangan dekati zina” Tim Darul Haq-Jakarta
2. DR.Muh.Mu’inudinillah Basri“jangan dekati zina” Maktab Dakwah
3. Ahmad bin Abdul Aziz al-Hamdan  “Risalah Nikah” Darul Haq
4. Asri Widiarti “Tak Kenal Maka Ta'aruf” Era Adicitra Intermedia, Solo
5. Yahya Abdurrahman ”Risalah Khitbah”: Al-Azhar Press, Bogor
4. http://syariahonline.com/ dan beberapa situs lainya


Selengkapnya...

KEMATIAN

       
PANDANGAN AGAMA TENTANG MAKNA KEMATIAN
    Sebahagian manusia ada yang tabu jika membicarakan tentang kematian, apalagi tentang bekal menghadapi kematian, dan mereka terperangan ketika kematian itu tiba.
     Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya tidak ada di antara kita yang mengetahui kapan kematian itu akan datang, Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita semua agar selalu mengingatnya dan menyiapkan diri dengan bekal setelah kematian itu.
      Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)." Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita semua agar selalu mengingat kematian yang suatu saat pasti akan tiba, bahkan seringkali datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba.
      Ibnu Umar RA berkata: "Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab: 'Yang paling baik akhlaknya.' Ia bertanya lagi, 'Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab: "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas."
      Inilah standar kecerdasan yang sebenarnya, yaitu tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti akan tiba dan menyiapkan diri dengan sebenarnya untuk hal itu. apakah kita sudah memulai untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW ini? Kalau kita sudah memulainya, lalu bagaimana dengan orang-orang terdekat kita?
      Para ulama berpendapat; sabda Rasulullah SAW "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)." Merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasehat, maka orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi kenikmatan kehidupan dunia yang dia rasakan dan menghalanginya berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan kehidupan dunia yang semu.
      Dalam Al-Quran berulang kali ditekankan bahwa ada kehidupan di dunia dan ada pula kehidupan di akhirat. Pertama dinamai Al-Quran al-hayat ad-dunya (kehidupan yang rendah), yang kedua dinamai al-hayawan (kehidupan yang sempurna). "Sesungguhnya negeri akhirat itu adalah al-hayawan (kehidupan yang sempurna" (QS 29:64). Dijelaskan pula bahwa, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, sedang akhirat lebih baik bagi orang-orang bertakwa, dan kamu sekalian (yang bertakwa dan yang tidak) tidak akan dianiaya sedikitpun (QS 14:77). Di lain ayat dinyatakan, "Hai orang-orang yang beriman, mengapa jika dikatakan kepada kamu berangkatlah untuk berjuang di jalan Allah, kamu merasa berat dan ingin tinggal tetap di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibanding dengan akhirat (nilai kehidupan duniawi dibandingkan dengan nilai kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit (QS 9:38).
      Di sanalah diperoleh keadilan sejati yang menjadi dambaan setiap manusia, dan di sanalah diperoleh kenikmatan hidup yang tiada taranya. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan kenikmatan dan kesempurnaan itu, adalah kematian, karena menurut Raghib Al-Isfahani: "Kematian, yang dikenal sebagai berpisahnya ruh dari badan, merupakan sebab yang mengantar manusia menuju kenikmatan abadi. Kematian adalah perpindahan dari satu negeri ke negeri yang lain, sebagaimana diriwayatkan bahwa, "Sesungguhnya kalian diciptakan untuk hidup abadi, tetapi kalian harus berpindah dan satu negeri ke negeri (yang lain) sehingga kalian menetap di satu tempat." (Abdul Karim AL-Khatib, I:217)
     Kematian itu walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua. tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila manusia meninggalkan dunia ini atau kematian.

     Ada beberapa istilah yang digunakan kitab Al-Quran untuk menunjuk kepada kematian, antara lain al-wafat (wafat), imsak (menahan). Firman Allah SWT, "Allah mewafatkan jiwa pada saat kematiannya, dan jiwa orang yang belum mati dalam tidurnya, maka Allah yumsik (menahan) jiwa yang ditetapkan baginya kematian, dan melepaskan yang lain (orang yang tidur) sampai pada batas waktu tertentu." (QS 39:42)
      Al-Quran juga menyifati kematian sebagai musibah malapetaka (baca QS 5:106), tetapi agaknya istilah ini lebih banyak ditujukan kepada manusia yang durhaka, atau terhadap mereka yang ditinggal mati. Dalam artian bahwa kematian dapat merupakan musibah bagi orang-orang yang ditinggalkan sekaligus musibah bagi mereka yang mati tanpa membawa bekal yang cukup untuk hidup alam berikutnya.
      Kematian juga dikemukakan oleh Al-Quran dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia. Dalam surat Al-Baqarah (2): 28 Allah mempertanyakan kepada orang-orang kafir. "Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya."
      Muhammad Iqbal menegaskan bahwa mustahil sama sekali bagi manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun, untuk dilemparkan begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi itu baru dapat terlaksana apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh. Pada ayat suci al-Quran Allah SWT menegaskan bahwa, "Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun" (QS 67: 1-2).
      Demikian terlihat bahwa kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi.

KEMATIAN HANYA KETIADAAN HIDUP DI DUNIA
      Ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia, dalam arti bahwa manusia yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya. "Janganlah kamu menduga bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tetapi mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki" (QS 3: 169). "Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang meninggal di jalan Allah bahwa 'mereka itu telah mati,' sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya" (QS 2:154).
      Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi Al-Bara' bin Azib, bahwa Rasulullah Saw., bersabda ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia, "Sesungguhnya untuk dia (Ibrahim) ada seseorang yang menyusukannya di surga."
      Sejarawan Ibnu Ishak dan lain-lain meriwayatkan bahwa ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam peperangan Badar dikuburkan dalam satu perigi oleh Nabi dan sahabat- sahabatnya, beliau "bertanya" kepada mereka yang telah tewas itu, "Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai Abu Jahl bin Hisyam, (seterusnya beliau menyebutkan nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per satu). Wahai penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku." "Rasul. Mengapa Anda berbicara dengan orang yang sudah tewas?" Tanya para sahabat. Rasul menjawab: "Ma antum hi asma' mimma aqul minhum, walakinnahum la yastathi'una an yujibuni (Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku)."
      Demikian beberapa teks keagamaan yang dijadikan alasan untuk membuktikan bahwa kematian bukan kepunahan, tetapi kelahiran dan kehidupan baru.

MENGAPA TAKUT MATI?
      Ayat Al-Quran seperti dikemukakan, menggambarkan bahwa hidup di alam akhirat itu akan jauh lebih baik daripada kehidupan dunia. "Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia" (QS 93:4).
      Musthafa Al-Kik menulis dalam bukunya Baina Alamain menyatakan bahwasanya kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak seperti serangan jantung, tabrakan, dan sebagainya, dan dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Baik yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya itu akan mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat) yakni semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad manusia tersebut..
      Dalam keadaan mati mendadak, sakarat al-maut itu hanya terjadi beberapa saat singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu diibaratkan oleh Nabi Muhammad Saw.- seperti "duri yang berada dalam kapas, dan yang dicabut dengan keras." Banyak ulama tafsir menunjuk ayat Wa nazi'at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS 79: 1), sebagai isyarat kematian mendadak. Sedang lanjutan ayat surat tersebut yaitu Wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada kematian yang dialami secara perlahan-lahan.
      Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai "dicabut dengan lemah lembut," sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang pada saat kantuk sampai dengan tidur. Surat Al-Zumar(39):42 yang dikutip sebelum ini mendukung pandangan yang mempersamakan mati dengan tidur. Dalam hadist Nabi Muhammad Saw kita diajarkan bahwasanya tidur identik dengan kematian. Bukankah doa yang diajarkan Rasulullah Saw. untuk dibaca pada saat bangun tidur adalah: "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami (membangunkan dari tidur) setelah mematikan kami (menidurkan). Dan kepada-Nya jua kebangkitan (kelak)."
      Pakar tafsir Fakhruddin Ar-Razi, mengomentari surat Al-Zumar (39): 42 sebagai berikut: "Yang pasti adalah tidur dan mati merupakan dua hal dari jenis yang sama. Hanya saja kematian adalah putusnya hubungan secara sempurna, sedang tidur adalah putusnya hubungan tidak sempurna dilihat dari beberapa segi."
      Nabi Muhammad Saw. dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menjelaskan bahwa, "Seorang mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan orang kafir yang juga diperlihatkannya kepadanya apa yang bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya daripada bertemu dengan Tuhan."
      Allah berfirman,"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘'Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih,serta bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kamu." (QS 41: 30)
      Turunnya malaikat tersebut menurut banyak pakar tafsir adalah ketika seseorang yang sikapnya seperti digambarkan ayat di atas sedang menghadapi kematian. Ucapan malaikat, "Janganlah kamu merasa takut" adalah untuk menenangkan mereka menghadapi maut dan sesudah maut, sedang "jangan bersedih" adalah untuk menghilangkan kesedihan mereka menyangkut persoalan dunia yang ditinggalkan seperti anak, istri, harta, atau hutang.
      Sebaliknya ayat al-Quran mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang kafir ketika menghadapi kematian sulit terlukiskan: "Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, 'Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar' (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri)" (QS Al-Anfal [8]: 50). "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya sambil berkata, 'Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini, kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah perkataan yang tidak benar, dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya" (QS 6:93).
      Manusia harus mempercayai dirinya dalam menghadapi kematian dengan jalan selalu ingat dan meyakini bahwa semua manusia pasti akan mati. Tidak seorang pun akan luput darinya, karena "kematian adalah risiko hidup." Bukankah Al-Quran menyatakan bahwa, "Setiap jiwa akan merasakan kematian" (QS Ali 'Imran [3]: 183). "Kami tidak menganugerahkan hidup abadi untuk seorang manusiapun sebelum kamu. Apakah jika kamu meninggal dunia mereka akan kekal abadi? (QS 21:34).
      Keyakinan akan kehadiran maut bagi setiap jiwa dapat membantu manusia dalam mempersiapkan musibah kematian. Karena, seperti diketahui, "semakin banyak yang terlibat dalam kegembiraan, semakin besar pengaruh kegembiraan itu pada jiwa; sebaliknya, semakin banyak yang tertimpa atau terlibat musibah, semakin ringan musibah itu dipikul."
      Demikian Al-Quran menggambarkan kematian yang akan dialami oleh manusia yang taat dan durhaka, dan menginformasikan tentang kematian yang dapat mengantar seorang mukmin agar tidak merasa khawatir menghadapinya. Sementara, yang tidak beriman atau yang durhaka diajak untuk bersiap-siap menghadapi berbagai ancaman dan siksaan. Semoga kita semua mendapatkan keridhaan Ilahi dan surga-Nya.
"Kalau sekiranya kamu dapat melihat malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. 8 : 50).
      "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu !" Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).
      Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan, bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawa secara kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang sholeh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati.
      Ketika nyawa seseorang akan dicabut, datang berbagai fitnah kepadanya. Iblis memerintahkan kepada anak buahnya untuk menggodanya, mereka mendatangi dengan menjelma sebagai sosok orang-orang yang tercinta yang sangat ia hormati : seperti ayah, ibu, kakak, adik, teman karib, dan lain sebagainya. Mereka menyatakan sebentar lagi kamu akan mati hai Fulan, dan kami telah mendahuluimu. Matilah kamu sebagai orang yang beragama Yahudi, karena ia adalah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah, jika ia berpaling dan menolak ajakan itu datang lagi anak buah iblis yang lain dan berkata matilah kamu sebagai orang yang memeluk agama Nasrani, karena ia adalah agama Isa Almasih yang menghapus agama Musa.
      Bagaimanakah jika sakaratul maut itu, datang kepada kita ? Apakah kita sudah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat)?
      Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya, pasal hadits-hadits para nabi, bab kematian Nabi Musa, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa: " Malaikat maut diutus kepada Nabi Musa (dengan menyerupai manusia) membawa kabar kematian. Maka Nabi Musa menampar mukanya tepat pada matanya. Lalu malaikatpun kembali kepada Allah SWT dan berkata: ya Robbi Engkau telah mengutusku kepada orang yang tidak menginginkan kematian. Allah menjawab: baiklah katakan pada Musa agar meletakan tangannya pada tubuh sapi dan katakan bahwa usianya akan ditambah sebanyak bulu sapi yang tertutup oleh telapak tangannya itu, 1 helai sama dengan 1 tahun. Seteleh pesan itu disampaikan Nabi Musa berkata: ya Robbi setelah itu apa? Allah menjawab: "setelah itu adalah kematian". Akhirnya Nabi Musapun berkata: kalau demikian halnya matikanlah saya sekarang".
      Jadi masalahnya bukan bagaimana caranya kita menghindari kematian itu. Karena kematian itu pasti datang, baik ditunggu ataupun dilupakan, baik dalam keadaan genting ataupun aman, dalam keadaan senang atau sedih. Tapi masalahnya yang penting adalah bagaimana keadaan kita ketika kita telah meninggal dunia, sudah masuk ke alam barzakh (kubur) kemudian masuk ke alam Akhirat. Apakah kita akan masuk ke dalam golongan orang-orang mu'min atau sebaliknya masuk ke dalam golongan orang-orang berdosa dan kafir.
Maka sewajarnyalah kita saling mengingatkan bahwa taatilah perintah perintah allah SWT dan rasulullah SAW, semoga kita selalu berada pada jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah SWT sampai pada kematian/ ajal menjemput kita.
      Dari Al-Bara' bin 'Azib, dia berkata: "Kami keluar bersama Rasulullah SAW (mengantarkan) jenazah seorang laki-laki Anshar. Kemudian kami sampai di kuburan, tetapi belum dibuatkan lahd. Maka Rasulullah SAW duduk, dan kami duduk di sekitar beliau. Seolah-olah di atas kepala kami (hinggap burung ). Ditangan beliau terdapat kayu yang beliau pukulkan ketanah sampai berbekas.
      Lalu beliau mengangkat kepalanya, kemudian bersabda: "Berlindunglah kepada Allah SWT dari siksa kubur!",-dua kali atau tiga kali- kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin, saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit, wajah-wajah mereka putih, wajah-wajah mereka seolah-olah matahari. Mereka membawa kafan dari kafan-kafan sorga, dan hanuth (minyak wangi ) dari hanuth sorga. Sehingga para malaikat itu duduk dari hamba yang mukmin itu sejauh mata memandang.
      Dan datanglah malakul maut 'alaihis salam sehingga dia duduk dekat kepalanya, lalu berkata: "Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaanNya!". Maka nyawa itupun keluar, ia mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut qirbah ( sebagai wadah untuk menyimpan air yang terbuat dari kulit), lalu malakul maut itu memegangnya.
      Setelah malaikat maut itu memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah putih itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata di tangannya, mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada kafan sorga itu. Dan keluarlah darinya bau misk yang paling wangi yang dia dapati di atas bumi.
      Kemudian setelah itu mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat, kecuali sekelompok malaikat itu bertanya:"Ruh siapakah yang baik ini?". Mereka menjawab:"Si Fulan anak Si Fulan", dengan nama terbaik yang dia dahulu diberi nama di dunia. Sehingga mereka membawa nyawa itu sampai ke langit dunia. Kemudian mereka minta dibukakan untuk nyawa tersebut. Maka langit dunia dibukakan untuknya.
      Kemudian para penghuni pada tiap-tiap langit mengiringi nyawa itu sampai ke langit yang selanjutnya. Sehingga membawa nyawa itu berakhir ke langit yang ke tujuh. Lalu Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam 'iliyyin (tempat ruh kaum mukmin), dan kembalikanlah dia ke bumi. (Karena sesungguhnya dari bumi Kami telah menciptakan mereka,dan darinya Kami akan mengeluarkan mereka, pada waktu yang lain. Maka ruhnya dikembalikan) di dalam jasadnya.
      Kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukannya:
“Kedua malaikat itu bertanya: "Siapakah Rabbmu?" Dia menjawab: "Rabbku adalah Allah".
“Kedua malaikat itu bertanya:"Apakah agamamu?" Dia menjawab: "Agamaku adalah Al-Islam".
“Kedua malaikat itu bertanya: "Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?" Dia menjawab:"Beliau utusan Allah".
“Kedua malaikat itu bertanya:"Apakah ilmumu?" Dia menjawab: "Aku membaca kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya".
      Maka penyeru dari langit berseru: "HambaKu telah (berkata) benar, berilah dia hamparan dari sorga, (dan berilah dia pakaian dari sorga), bukakanlah sebuah pintu untuknya ke surga.
Maka datanglah kepadanya bau sorga dan wanginya sorga. Dan diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh mata memandang.
      Dan datanglah seorang laki-laki berwajah tampan kepadanya, berpakaian bagus, beraroma wangi, lalu mengatakan:"Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (kebaikan)". Maka ruh orang mukmin itu bertanya kepadanya: "Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan?" Dia menjawab: "Aku adalah amalmu yang shalih". Maka ruh itu berkata: "Rabbku tegakkanlah hari kiamat, sehingga aku akan kembali kepada istri dan hartaku".
      Dan sesungguhnya seorang hamba yang kafir, pada saat akan meninggalkan dunia dan menuju akhirat, turun kepadanya malaikat-malaikat yang memiliki wajah-wajah hitam. Mereka membawa pakaian-pakaian dari rambu, sehingga duduk darinya sejauh mata memandang.
      Kemudian datanglah malakul maut, sehingga dia duduk di dekat kepalanya, lalu berkata:"Wahai nafs (jiwa; ruh; nyawa) yang jahat, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahannya!". Maka nyawa itupun bercerai-berai di dalam jasadnya. Maka malakul maut mencabutnya, sebagaimana dicabutnya saffud (Gancu) dari wol yang basah. Lalu malakul maut itu memegangnya.
      Setelah malakul maut memegangnya, mereka (para malaikat yang berwajah hitam itu) tidak membiarkan nyawa itu -sekejap mata- di tangannya, sehingga mereka mengambilnya, dan meletakkannya pada pakaian dari rambut itu. Dan keluarlah darinya seperti bangkai yang paling busuk yang didapati di atas bumi.
      Kemudian mereka naik membawa nyawa tersebut. Tidaklah mereka melewati sekelompok para malaikat kecuali sekelompok para malaikat itu bertanya:"Ruh siapakah yang jahat ini?". Mereka menjawab:"Si Fulan anak si Fulan", dengan nama terburuk yang dia dahulu diberi nama di dunia. Kemudian minta dibukakan, tetapi langit di dunia tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah Salallahu 'Alaihi wa Salam membaca: "Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum." (QS. Al-A'raf:40)
      Lalu Allah 'Azza wa Jalla berfirman:"Tulislah kitab (catatan) hambaku di dalam sijjin"(penjara dan tempat yang sempit) di bumi yang bawah, kemudian nyawanya dilempar dengan keras.
      Kemudian Rasulullah Salallahu 'Alaihi wa Salam membaca: "Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS: Al Hajj:31)
      Kemudian ruhnya dikembalikan di dalam jasadnya. Dan dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya:
“Kedua malaikat itu bertanya: "Siapakah Rabbmu?" Dia menjawab:"Hah, hah, aku tidak tahu".
“Kedua malaikat itu bertanya:"Apakah agamamu?" Dia menjawab:"Hah, hah, aku tidak tahu".
“Kedua malaikat itu bertanya:"Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kamu ini?" Dia menjawab:"Hah, hah, aku tidak tahu".
      Maka setelah itu penyeru dari langit berseru: "Hambaku telah (berkata) dusta, berilah dia hamparan dari neraka, dan bukakanlah sebuah pintu untuknya ke neraka". Maka datanglah kepadanya panasnya neraka dan asapnya. Dan kuburnya disempitkan atasnya, sehingga tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Dan datanglah seorang laki-laki berwajah buruk kepadanya berpakaian buruk, beraroma busuk, lalu mengatakan:"Terimalah kabar dengan apa yang menyusahkanmu, inilah harimu yang engkau telah dijanjikan (keburukan)".
      Maka ruh orang kafir itu bertanya kepadanya:"Siapakah engkau, wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan?" Dia menjawab: "Aku adalah amalmu yang buruk". Maka ruh itu berkata:"Rabbku, janganlah engkau tegakkan hari kiamat". (HR. Ahmad, dishahihkan Syaikh Al-Albani di dalam Ahkamul Janaiz dan Shahih Al-Jami' no:1672).
      At-Taimi rahimahullah berkata, 'Dua perkara yang memutuskan kenikmatan dunia dariku: Mengingat mati dan mengingat posisi saat berada di hadapan Allah SWT.' Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan mati, hari kiamat dan akhirat, lalu mereka menangis sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.
      Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Barangsiapa yang banyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: Segera bertaubat, hati bersifat qana'ah, dan rajin dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam ibadah. Maka pikirkanlah -wahai yang terperdaya- tentang mati dan saat sakaratul maut, berat dan pahitnya. Wahai kematian, sebuah janji yang pasti benar dan hakim yang sangat adil. Cukuplah kematian yang melukai hati, membuat mata menangis, memisahkan kelompok, menghancurkan kenikmatan, dan memutuskan angan-angan. Apakah engkau sudah memikirkan wahai keturunan Adam di hari kematianmu, berpindahmu dari tempatmu. Dan apabila engkau telah dipindah dari tempat yang luas ke tempat yang sempit, sahabat dan rekanmu mengkhianatimu, saudara dan temanmu meninggalkanmu, dan mereka menutupimu dengan tanah setelah sebelumnya engkau diselimuti kain yang lembut. Wahai yang mengumpulkan harta dan bersungguh-sungguh dalam bangunan, tidak ada sesuatu pun untukmu selain kain kafan. Bahkan demi Allah hanya untuk kehancuran dan sirna, dan tubuhmu untuk tanah dan tempat kembali. Maka di manakah harta yang engkau kumpulkan? Apakah bisa menyelamatkan engkau dari huru hara? Sama sekali tidak, bahwa engkau meninggalkannya kepada orang yang tidak memujimu, engkau memberikan dengan dosa-dosamu kepada orang yang tidak memaafkanmu.
      Al-Hasan al-Bashari berkata: Sesungguhnya suatu kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa mempunyai amal kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku. Dia bohong, jika ia benar-benar berbaik sangka (husnuzh-zhann) tentu ia memperbaiki amal perbuatan, dan ia membaca firman Allah SWT: Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fuhshilat:23).
      Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwa 3 hari sebelum wafat Rasulullah bersabda, "Janganlah salah seorang kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Sering seringlah mengingat kematian, karena sesungguhnya hal itu bisa membersihkan dosa-dosa dan dapat membuat bersikap zuhud terhadap dunia.
      At-Tirmidzi dalam kitabnya An-Nawawir, bahwa al Hasan berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda,: "Tuhan-Mu Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung berfirman , Aku tidak menghimpun pada hambaku 2 rasa ketakutan sekaligus, dan tidak menghimpun 2 rasa aman sekaligus. Barang siapa yang takut pada-Ku di dunia, aku akan membuatnya aman di akhirat. Dan barang siapa yang merasa aman dari-Ku di dunia, Aku akan membuatnya takut di akhirat."
      Dari Abu Nu'aim dari Makhul, dari Ismail bin Ayyasy bin Abu Muadz alias Utbah bin Hunaid, dari Watsilah ibnul Asqa, bahwa nabi bersabda' "Saksikanlah orang-orang yang hendak meninggal dunia diantara kalian, tuntunlah mereka membaca kalimat La illaha illallah, dan berilah mereka khabar gembira dengan surga, sebab orang yang sangat bijaksana sekalipun akan bingung pada suasana menjelang ajal seperti itu. Dan pada saat itu setan sangat dekat dengan manusia. Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, pandangan mata malaikat maut itu lebih dasyat sakitnya daripada seribu kali tebasan pedang. Dan juga demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah keluar nyawa seorang hamba dari dunia sampai ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
      Tidak ada yang lebih ampuh nasehatnya daripada nasehat yang diberikan jenazah dan batu nisan, oleh karenanya menghadirkan gambaran keadaan kita ketika maut menjelang adalah perbuatan yang sangat utama bagi orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Wallahu A'lam

Sumber:
1. “Wawasan Alqur’an tentang kematian”, Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
2. “Rahasia kematian, alam akherat dan kiamat”, Imam al Qurtubi
3. “mengingat kematian & menyiapkan diri untuk menghadapinya”, Imam al-Qurthubi, Terjemah Moh. Iqbal Ghazali
Selengkapnya...

MENGENAL TUHAN

     Sebagian manusia, hanya tunduk dan patuh dengan aturan yang nyata-nyata terlihat oleh mata manusia seperti: patuh pada aturan/ hukum Negara, jika tidak patuh maka dipenjara atau diberhentikan, anak yang patuh pada orang tua, jika tidak patuh maka akan dipukul atau dinasehati dengan nyata, tetapi wujud tuhan tidak terlihat oleh mata zahir manusia secara nyata-nyata, sehingga ada yang tidak meyakini adanya tuhan, ada yang ragu ragu/ samar-samar, hal ini disebabkan karena mereka tidak mendalami isi alqur’an dan hadist (ada yang tidak memahami/ mendalami sama sekali, ada yang sedikit memahami dls) akibatnya murka allah atau hukuman allah didunia ini kadang tidak mengerti/ tidak diketahui sebagian manusia, mereka menganggap  hal itu adalah hukum alam yang nyata bukan dari tuhan. Dari satu sisi dikenal satu ungkapan oleh pakar agama dinilai sebagai hadis Qudsi yaitu: "Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku." maka Al-Quran datang untuk meluruskan keyakinan manusia, dengan membawa ajaran tauhid yang telah dijabarkan oleh rasullullah SAW.
     Tauhid adalah: Mengesakan Allah semata dalam beribadah dan tidak menyekutukan-Nya. Bahkan tauhid merupakan pokok yang dibangun diatasnya semua ajaran, maka jika pokok ini tidak ada, amal perbuatan menjadi tidak bermanfaat dan gugur, karena tidak sah sebuah ibadah tanpa tauhid.

      Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun ibadahnya kepada selain Allah ta’ala, tidak kepada malaikat, kepada para Nabi dan tidak juga kepada para wali yang shaleh dan tidak kepada siapapun makhluk yang ada. Karena ibadah tidak sah kecuali dilakukan dengan ikhlas untuk Allah, maka siapa yang memalingkannya kepada selain Allah dia telah berbuat syirik yang besar dan semua amalnya gugur.
      seseorang harus berlepas diri dari penghambaan (ibadah) kepada selain Allah, menghadapkan hati sepenuhnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Tidak cukup dalam tauhid sekedar pengakuan dan ucapan syahadat saja jika tidak menghindar dari ajaran orang-orang musyrik serta apa yang mereka lakukan seperti berdoa kepada selain Allah misalnya kepada orang yang telah mati dan semacamnya, atau minta syafaat kepada mereka (orang-orang mati) agar Allah menghilangkan kesusahannya dan menyingkirkannya, dan meminta pertolongan kepada mereka atau yang lainnya yang merupakan perbuatan syirik.
      Wujud nyata Tauhid adalah: memahaminya dan berusaha untuk mengetahui hakikatnya serta melaksanakan kewajibannya, baik dari sisi ilmu maupun amalan, hakikatnya adalah mengarahkan ruhani dan hati kepada Allah baik dalam hal mencintai, takut (khauf), taubat, tawakkal, berdoa, ikhlas, mengagungkan-Nya, membesarkan-Nya dan beribadah kepada-Nya. Kesimpulannya tidak ada dalam hati seorang hamba sesuatupun selain Allah, dan tidak ada keinginan terhadap apa yang Allah tidak inginkan dari perbuatan-perbuatan syirik, bid’ah, maksiat yang besar maupun kecil, dan tidak ada kebencian terhadap apa yang Allah perintahkan. Itulah hakikat tauhid dan hakikat Laa Ilaaha Illalla

FITRAH MANUSIA: KEYAKINAN TENTANG KEESAAN ALLAH
      Hampir tidak ditemukan ayat alqur’an yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan Syaikh Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Al-Islam wa Al-'Aql menegaskan bahwa, "Jangankan Al-Quran, Kitab Taurat, dan Injil pun tidak menguraikan tentang wujud Tuhan."
      Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap manusia, hal tersebut merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Firman allah "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tiada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30;30), ayat AlQur’an lain: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan'" (QS 7;172).
      Apabila Anda duduk menyendiri, pikiran mulai tenang, akan dapat merasakan suara hati yang mengajak Anda untuk berdialog, mendekat dengan Yang Maha mutlak. Suara hati itu dapat menyadarkan betapa lemahnya manusia dihadapan-Nya, betapa kuasa dan perkasa Dia Yang Maha agung, suara hati itulah fitrah manusia yang terbawa serta sejak lahir.
      Kesibukan dunia dan dosa-dosa menyebabkan suara hati tersebut begitu lemah tidak terasa lagi dan terabaikan, tetapi bila diusahakan untuk merenung atau mempelajari dari al qur’an dan hadist: tiada tuhan kecuali allah, dan dihujamkan di dalam hati secara sungguh sungguh dan terus mengasahnya setiap waktu, dan meyakini bahwa allah mengawasi/ melihat yang kita lakukan setiap saat maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada yang lain kecuali kepada Allah, tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi kecuali kepada-Nya. La haula wa la quwwata illa billah (Tiada daya untuk memperoleh manfaat, tiada pula kuasa untuk menolak mudarat, kecuali bersumber dari Allah).
      Orang-orang yang berprinsip bahwa Tuhan Pemelihara kami adalah Allah SWT, serta istiqamah dengan hal tersebut, maka akan turun kepada mereka malaikat (untuk menenangkan mereka sambil berkata) "Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan" (QS 41; 30). Dan firman allah: "Orang-orang yang beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Memang hanya dengan mengingat Allahlah jiwa menjadi tenteram" (QS 13; 28).
      Manusia kadang mengalami keraguan tentang adanya tuhan, bahkan menolak kehadiran Tuhan, beberapa ayat yang mengisyaratkan adanya segelintir manusia yang tidak percaya dengan adanya tuhan, firman Allah SWT, "Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.'" (QS 45; 24) Namun lanjutan ayat di atas, "Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."
      Boleh jadi mereka yang tidak mempercayai wujud Tuhan adalah orang-orang yang kurang akal/ kebodohan dan keras kepala ketika berhadapan dengan satu kenyataan yang tidak sesuai dengan "nafsu nya". Salah satu bukti bahwa pernyataan ini lahir dari sikap keras kepala adalah pengakuan Fir'aun ketika ruhnya akan meninggalkan jasadnya. Dalam Al-Quran, dijelaskan sikap Fir'aun yang ketika itu kembali kepada fitrah, namun sayang dia telah terlambat, firman Allah SWT "... hingga saat Fir'aun telah hampir tenggelam, berkatalah dia. 'Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).' Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?" (QS 10: 90-91).
      Ayat ini sekaligus membuktikan bahwa kehadiran Tuhan merupakan fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya. Kalaupun ada yang mengingkari wujud tersebut, maka pengingkaran tersebut bersifat sementara. Dalam arti bahwa pada akhirnya sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya ia akan mengakui-Nya.

BUKTI-BUKTI KEESAAN TUHAN
      Ada sementara orang yang menuntut bukti wujud dan keesaan Tuhan dengan pembuktian material. Mereka ingin segera melihat-Nya di dunia ini. Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya, sehingga Tuhan berfirman sebagai jawaban atas permohonannya, "'Engkau sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku. Tetapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya [seperti keadaannya semula), niscaya kamu dapat melihat-Ku.' Tatkala Tuhannya tampak bagi gunung itu, kejadian tersebut menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Maha suci Engkau, aku bertobat kepada-Mu, dan aku orang yang pertama (dari kelompok) orang beriman'" (QS 7: 143).
      Peristiwa ini membuktikan bahwa manusia agungpun tidak berkemampuan untuk melihat-Nya paling tidak dalam kehidupan dunia. Agaknya kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa kita dapat mengakui keberadaan sesuatu tanpa harus melihatnya. Bukankah kita mengakui adanya angin, hanya dengan merasakan atau melihat bekas-bekasnya? Bukankah kita mengakui adanya "nyawa" bukan saja tanpa melihatnya bahkan tidak mengetahui substansinya?
      Ali bin abi tholib r.a pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani, "Apakah Anda pernah melihat Tuhan?" Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?" "Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ..."
      Secara umum kita dapat membagi uraian Al-Quran tentang bukti Keesaan Tuhan dengan tiga bagian pokok, yaitu:
1. Kenyataan wujud yang tampak.
2. Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.
3. Dalil-dalil logika.

1. KENYATAAN WUJUD YANG TAMPAK
      Dalam konteks ini Al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai bukti, khususnya keberadaan alam raya ini dengan segala isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan untuk melakukan nazhar, fikr, serta berjalan di permukaan bumi guna melihat betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa ada yang mewujudkannya. "Tidakkah mereka melihat kepada unta bagaimana diciptakan, dan ke langit bagaimana ia ditinggikan, ke gunung bagaimana ia ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS 88: l7-20).
      Dalam uraian Al-Quran tentang kenyataan wujud, dikemukakannya keindahan dan keserasian alam raya. "Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi serta Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." (QS 50: 6-7). keserasiannya, didalam alqur’an dinyatakannya: "(Allah) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sama sekali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah sesuatu yang kamu lihat tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu pun yang cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah" (QS 67: 3-4).

2. RASA YANG TERDAPAT DALAM JIWA MANUSIA
      Dalam konteks ini, Al-Quran misalnya mengingatkan kepada manusia, "Katakanlah (hai Muhammad kepada yang mempersekutukan Tuhan), 'Jelaskanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar?' Tidak! Tetapi hanya kepada-Nya kamu bermohon, maka Dia menyisihkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah)" (QS 6: 40-41). "Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, dan (berlayar) di lautan. Sehingga bila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa para penumpangnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya: (kemudian) datanglah angin badai dan apabila gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata) 'Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur'" (QS 10: 22).
      Demikian Al-Quran menggambarkan hati manusia. Karena itu tepat pandangan para filosof yang menyatakan bahwa manusia dapat dipastikan akan terus mengenal dari berhubungan dengan Tuhan sampai akhir zaman, walaupun ilmu pengetahuan membuktikan lawan dari hal tersebut. Ini selama tabiat kemanusiaan masih sama seperti sediakala, yakni memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut atau harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus.

3. DALIL-DALIL LOGIKA
      ayat-ayat yang menguraikan tentang Keesaan Tuhan- Misalnya, "Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia mengetahui segala sesuatu" (QS 6:101). "Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada dua Tuhan, maka pastilah keduanya binasa" (QS 21: 22)
      Maksud ayat ini adalah "seandainya ada dua pencipta, maka akan kacaulah ciptaan, karena jika masing-masing Pencipta menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Pencipta yang lain, maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun akan kacau atau tidak akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain, maka yang kalah bukanlah Tuhan; dan apabila mereka berdua bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan, karena Tuhan tidak mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu."
      Pengalaman ruhanipun disebutkan oleh Al-Quran yaitu pengalaman para Nabi dan Rasul. Misalnya pengalaman Nabi Musa a.s. (Baca QS 20: 9-47). Demikian juga pengalaman Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad Saw., serta nabi-nabi yang lain dengan berbagai rinciannya yang berbeda, namun semuanya bermuara pada tauhid atau Keesaan Tuhan.
      Di samping mengemukakan dalil-dalil di atas, ayat ayat Al-Quran juga mengajak mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan hujjah mereka. "Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah, 'Kemukakan bukti kalian!'" (QS 21:24). "Katakanlah, 'Jelaskanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dan bumi ini, atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit. Bawalah kepadaku kitab sebelum (Al-Quran) ini, atau peninggalan dan pengetahuan (orang-orang dahulu) jika kamu adalah orang-orang yang benar'" (QS 46: 4)

MACAM-MACAM KEESAAN
      Berbicara tentang macam-macam keesaan Allah mengantarkan kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas, sedikitnya tentang ayatnya yang pertama, "Katakanlah! Dia Allah Yang Maha Esa."
Dalam ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai sifat Allah Swt., dalam arti bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain dari-Nya. Dari segi bahasa, kata Ahad walaupun berakar sama dengan Wahid, tetapi masing-masing memiliki makna dan penggunaan tersendiri. Kata Ahad hanya digunakan untuk sesuatu yang tidak dapat menerima penambahan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan, karena itu kata ini ketika berfungsi sebagai sifat, tidak termasuk dalam rentetan bilangan, berbeda halnya dengan wahid (satu); Anda dapat menambahnya sehingga menjadi dua, tiga, empat dan seterusnya, walaupun penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.
      Berbicara tentang angka -dalam kaitannya dengan bahasan tauhid- agaknya menarik untuk dihayati bahwa kata "Ahad" terulang di dalam Al-Quran sebanyak 85 kali, namun hanya sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni firman-Nya dalam surat Al-Ikhlas, "Qul Huwa Allahu Ahad." Seakan-akan Allah bermaksud untuk menekankan keyakinan tauhid, bukan saja dalam maknanya, tetapi juga dalam bilangan pengulangan lafalnya, serta kandungan lafal itu. Ini menggambarkan kemurnian mutlak dalam keesaan. Bukankah kata Wahid yang berarti "satu," dapat berbilang unsurnya, berbeda dengan kata Ahad yang mutlak tidak berbilang, walau hanya sekadar unsurnya? Benar! Allah terkadang juga disifati dengan kata Wahid seperti antara lain dalam firman-Nya: "Tuhan-Mu adalah Tuhan yang Wahid, tiada Tuhan selain Dia, Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (QS 2: 163)
      Sementara para ulama berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di atas, adalah menunjuk kepada keesaan Zat-Nya disertai dengan keragaman sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakuat, Maha Mengetahui, dan sebagainya, sedangkan kata Ahad dalam surat Al-Ikhlas itu, mengacu kepada keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan keragaman sifat-sifat tersebut.
      Terlepas dari setutu atau tidak dengan pembedaan terakhir ini, namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa, dan Keesaan-Nya itu mencakup empat macam keesaan
1. Keesaan Zat
2. Keesaan Sifat
3. Keesaan Perbuatan, dan
4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

1. KEESAAN ZAT-NYA
      Keesaan Zat mengandung pengertian bahwa seseorang harus percaya bahwa Allah Swt. tidak terdiri dari unsur-unsur, atau bagian-bagian, karena bila Zat Yang Mahakuasa itu terdiri dari dua unsur atau lebih, betapapun kecilnya unsur atau bagian itu- maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau bagian itu. Atau dengan kata lain unsur atau bagian itu merupakan syarat bagi wujud-Nya. Jika demikian, Zat Tuhan pasti tidak terdiri dari unsur atau bagian-bagian betapapun kecilnya, karena jika demikian, Dia tidak lagi menjadi Tuhan. Benak kita tidak dapat membayangkan Tuhan membutuhkan sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian: "Wahai seluruh manusia kamulah yang butuh kepada Allah dan Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha Terpuji" (QS 35: 15).
      Setiap penganut paham tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak bersumber dari sesuatu pun. Ayat al-Quran menegaskan bahwa, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (QS 42: 11)
     Perhatikan redaksi ayat di atas, "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya." Yang serupa dengan-Nya pun tidak ada, apalagi yang seperti Dia. Karena itu, jangankan secara faktual di dunia nyata, secara imajinatif pun tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah tidak menempati ruang dan waktu, sehingga suatu bentuk hayalan/ bayangan apapun didunia ini, pada jarak tertentu, itupun bukan tuhan.
      Keragaman dan bilangan lebih dari satu adalah substansi setiap makhluk, bukan ciri Khaliq. Itulah sebagian dari makna Keesaan dalam Zat-Nya.
      Rasulullah bersabda : “Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu fikirkan tentang dzat Allah, sebab, kamu tidak akan sanggup mengira-ira tentang hakikatnya yang sebenarnya ” HR.Abu Nu’im dalam Al Hidayah. Hadits dari Ibnu Abbas, Nabi s.a.w. bersabda : "Fikirkanlah makhluk Allah dan jangan memikirkan Dzat-Nya, karena kamu tidak akan dapat menduga kekuasaan-Nya". Dan dari Ibnu Abbas juga dengan lain perkataan : "Fikirkanlah kamu keadaan makhluk dan jangan fikirkan keadaan Khaliq" (Allah Yang Maha Menciptakan), karena kamu tidak dapat mengukur kekuasaan-Nya". (HR. Abu Syaikh)

2. KEESAAN SIFAT-NYA
      Adapun keesaan sifat-Nya, maka itu antara lain berarti bahwa Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa, kata yang digunakan untuk menunjuk sifat tersebut sama. Sebagai contoh, kata Rahim merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga digunakan untuk menunjuk rahmat atau kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya. Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang dapat menyamai substansi dan kapasitas sifat tersebut.
      Sementara ulama memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu, dalam arti bahwa Zat-Nya sendiri merupakan sifat-Nya. Demikian mereka memahami keesaan secara amat murni. Mereka menolak adanya "sifat" bagi Allah, walaupun mereka tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lain yang secara umum dikenal ada sembilan puluh sembilan. Mereka yakin tentang hal tersebut, tetapi mereka menolak menamainya sifat-sifat. Lebih jauh penganut paham ini berpendapat bahwa "sifat-Nya" merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan tauhid Zat, dinafikan segala unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun kecilnya unsur itu, maka dengan tauhid sifat dinafikan segala macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi sifat-sifat Allah. Berapa jumlah sifat Allah itu? Yang populer menurut sebuah hadis ada 99 sifat. Tetapi Muhammad Husain Ath-Thabathaba'i, setelah menelusuri ayat-ayat Al-Quran, menyimpulkan bahwa ada 127 nama atau sifat Allah yang ditemukan dalam Al-Quran, kesemuanya merupakan Al-Asma', Al-Husna.

3. KEESAAN PERBUATAN-NYA
      Keesaan ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang berada di alam ini, sistem kerjanya maupun sebab dan wujud-wujudNya, kesemua itu adalah hasil perbuatan Allah semata. Apa yang dikehendaki-Nya akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, tidak ada daya (untuk memperoleh manfaat), tidak pula kekuatan (untuk menolak madarat), kecuali bersumber dari Allah Swt., Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah Swt Berlaku sewenang-wenang, atau "bekerja" tanpa sistem yang ditetapkanNya. Keesaan perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum, atau takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya.
      Dalam mewujudkan kehendak-Nya Dia tidak membutuhkan apa pun. Firman Allah "Sesungguhnya keadaan-Nya bila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata, 'Jadilah!' Maka jadilah ia" (QS 36: 82). Tetapi ini bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata "jadilah;" ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada hakikatnya dalam mewujudkan sesuatu Dia tidak membutuhkan apa pun. Ayat ini juga tidak berarti bahwa segala sesuatu yang diciptakan-Nya tercipta dalam sekejap, tanpa proses, sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah nabi Isa a.s. dinyatakan-Nya sebagai tercipta dengan kun. "Sesungguhnya keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti Adam, diciptakan dari tanah kemudian Dia katakan kepadanya kun (jadilah), maka jadilah dia" (QS 3: 59).
      Pada ayat lain didalam kitab Al-Quran menggambarkan proses kejadian nabi Isa as, yang dimulai dengan kehadiran malaikat kepada Maryam, kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan akhirnya lahir (Baca QS 19:16-26). Sekali lagi, kata kun bukan berarti bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa adanya suatu proses.

4. KEESAAN DALAM BERIBADAH KEPADA-NYA
      Kalau ketiga keesaan Allah SWT di atas merupakan hal-hal yang harus diketahui dan diyakini, maka keesaan keempat ini merupakan perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.
      Ibadah itu beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu ragamnya yang paling jelas, adalah amalan tertentu yang ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh Allah atau melalui Rasul-Nya, dan yang secara populer dikenal dengan istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertiannya yang umum, mencakup segala macam aktivitas yang dilakukan demi karena Allah.
      Mengesakan Tuhan dalam beribadah, menuntut manusia untuk melaksanakan segala sesuatunya demi karena Allah SWT, baik sesuatu itu dalam bentuk ibadah mahdhah (murni), maupun selain dari itu. Walhasil, keesaan Allah dalam beribadah kepada-Nya adalah dengan melaksanakan apa yang ditegaskan dalam ayat alqur’an, firman Allah SWT, "Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, (seterusnya) karena Allah, Pemelihara seluruh alam'" (QS 6: 162).

ALLAH DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
      Salah satu ayat yang menggambarkan dampak kehadiran Allah dalam jiwa manusia adalah firman-Nya, "Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang lelaki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan saling berselisih (buruk perangai mereka), dengan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang saja. Adakah keduanya (budak-budak itu) sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS 39:29).
      Ayat ini bermaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang yang harus taat kepada sekian banyak orang yang memilikinya, tetapi pemilik-pemiliknya itu saling berselisih dan buruk perangainya. Alangkah bingungnya dia. Yang ini memerintahkan satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah atau memerintahkannya dengan perintah lain, yang ketiga pun demikian juga. Begitu seterusnya, sehingga pada akhirnya budak itu hidup dalam kompleks kejiwaan yang tidak diketahui bagaimana cara menanggulanginya. Bandingkanlah hal itu dengan seorang budak lain yang hanya menjadi milik penuh oleh seseorang sehingga ia tidak mengalami kebingungan atau kontradiksi dalam kesehariannya.
      Menarik dikemukakan alasan Murtadha Muthahhari yang juga memahami sebagaimana ulama-ulama lain -arti kata rajulan pada ayat di atas dengan "budak." Ulama tersebut menulis dalam bukunya Allah dalam Kehidupan Manusia bahwa: Sementara orang ada yang membuat kemungkinan berikut, yakni bahwa manusia berkeinginan untuk hidup bebas (tanpa kendali). Sesungguhnya keinginan ini (walaupun merupakan sesuatu yang mustahil) menjadikan manusia keluar dari kemanusiaannya, karena ini berarti bahwa ketika itu dia tidak mengakui adanya hukum, tujuan, keinginan atau ide -dalam arti dia kosong sama sekali dari keyakinan tertentu, dan keadaan demikian mencabutnya dari hakikat kemanusiaan. Keadaan semacam ini tidak ada wujudnya dalam kehidupan manusia di dunia. Orang-orang yang menghendaki kehidupan sebebas mungkin, serta tidak mengakui adanya sedikit peraturan pun, pasti hidup mereka pun dilandasi oleh keyakinan (ide tertentu) atau berusaha mencari ide/keyakinan tertentu. Usaha ini menunjukkan bahwa manusia harus menerima wewenang pengaturan dari keyakinan (ide yang ada dalam benaknya). Jika demikian, tidak heran jika Al-Quran menggunakan istilah-istilah yang mengandung arti budak (seseorang yang dimiliki oleh pihak lain).
      Keadaan yang digambarkan oleh ayat di atas, terbukti kebenarannya dalam kenyataan hidup orang-orang yang lemah imannya, atau memiliki sekian banyak ide atau keyakinan yang saling bertentangan. Sekali dia taat kepada Tuhan, lain kali dia taat kepada setan, sekali dia ke masjid, lain kali ke klub malam. Orang semacam ini dikuasai atau menjadi budak sekian penguasa yang buruk perangainya sehingga pada akhimya ia mengidap kepribadian ganda (split personality), yang merupakan salah satu bentuk dari sekian banyak bentuk penyakit kejiwaan. Kalau demikian wajar jika Al-Quran menegaskan bahwa, "Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS 13: 28).
      Kalau dalam ayat lain Al-Quran menegaskan bahwa seandainya pada keduanya (langit dan bumi) terdapat banyak Tuhan (Pengusa yang mengatur alam) selain Allah, maka pastilah keduanya akan binasa (QS 21: 22), maka dalam QS Al-Zumar [39]: 29 di atas, Allah berpesan bahwa seandainya di dalam jiwa seseorang ada banyak tuhan atau penguasa yang mengatur hidupnya, maka pasti pula jiwanya akan rusak binasa.
      Kalau uraian di atas membuktikan kebutuhan jiwa manusia kepada akidah tauhid, maka rangkaian pertanyaan berikut dapat menjadi salah satu bukti tentang kebutuhan akalnya terhadap akidah ini. Pertanyaan dimaksud adalah: "Siapa yang menjamin bila Anda melontar ke depan, maka batu itu tidak mengarah ke belakang? Apa yang menjamin bahwa air selalu mencari tempat yang rendah? Apa yang mengantar ilmuwan untuk memperoleh semacam kepastian dalam langkah-langkahnya?" Kepastian tersebut tidak mungkin dapat diperoleh kecuali melalui keyakinan tentang wujud Tuhan Yang Maha Esa. Karena jika Tuhan berbilang, maka sekali tuhan ini yang mengatur alam dan menetapkan kehendak-Nya dan kali lain tuhan yang lain lagi. Apa yang menjamin kepastian itu, seandainya Tuhan Yang mengatur hukum-hukum dan tata kerta alam raya, juga butuh kepada sesuatu? Sudah dapat dipastikan tidak ada yang dapat menjamin!
      Jika demikian, tauhid bukan saja merupakan hakikat kebenaran yang harus diakui karena diperlukan oleh jiwa manusia, tetapi juga merupakan kebutuhan akalnya demi kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Wajar jika perkembangan pemikiran manusia tentang Tuhan, berakhir pada monoteisme murni, setelah pada awalnya menganut keyakinan politeisme (banyak tuhan), kemudian dua tuhan, disusul dengan kepercayaan tentang adanya satu Tuhan. dan berakhir dengan tauhid murni (keesaan mutlak) yang dianut oleh umat Islam.
      Apabila seseorang telah menganut akidah tauhid dalam pengertian yang sebenarnya, maka akan lahir dari dirinya berbagai aktivitas, yang kesemuanya merupakan ibadah kepada Allah, baik ibadah dalam pengertiannya yang sempit (ibadah murni) maupun pengertiannya yang luas. Ini disebabkan karena akidah tauhid merupakan satu prinsip lengkap yang menembus semua dimensi dan aksi manusia. Karena itu, dalam alqur’an "Allah tidak mengampuni siapa yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki (QS 4: 48).
      Kalau dalam alam raya ini ada matahari yang menjadi sumber kehidupan makhluknya di permukaan bumi, dan yang berkeliling padanya planet-planet tata surya yang tidak dapat melepaskan diri darinya, maka akidah tauhid merupakan matahari kehidupan ruhani dan yang berkeliling di sekitarnya kesatuan-kesatuan yang tidak dapat pula melepaskan diri atau dilepaskan darinya. Kesatuan dimaksud antara lain adalah kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supranatural, kesatuan ilmu, kesatuan agama, kesatuan kemanusiaan, kesatuan umat, kesatuan kepribadian manusia, dan lain-lain.
      Prinsip lengkap ini harus terus-menerus dipelihara, diasah, dan diasuh. Memang boleh jadi seorang Muslim mengalami godaan sehingga timbul tanda tanya menyangkut kehadiran Allah Yang Maha Esa. Yang demikian adalah wajar-wajar saja, asal ia selalu berupaya untuk mengusir godaan itu. Hal ini dialami juga oleh para sahabat Nabi Saw. Mereka yang mengadukan pengalamannya kepada beliau ditanggapi oleh Nabi Muhammad Saw. dengan bersabda, "Segala puji bagi Allah yang menangkal tipuannya (setan) menjadi waswasah (bisikan)."
      Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, pernah ditanya oleh Abu Zamil Sammak ibn Al-Walid, "Apakah yang saya rasakan di dalam dadaku (ini)?" "Apakah itu," tanya Ibnu Abbas. "Demi Allah saya tidak akan mengatakannya." Ibnu Abbas bertanya balik, "Apakah semacam syak atau keraguan?" Si penanya mengiyakan. Ibnu Abbas kemudian berkata, "Tidak seorang pun (dari kami) yang terbebaskan dari yang demikian, sampai turun firman Allah: "Apabila kamu dalam keraguan dari apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu" (QS 10: 94).
      Apabila engkau mendapatkan hal itu bacalah, Dia yang Awal, Dia Yang Akhir, Dia Yang Zhahir (tampak melalui ciptaan-Nya), Dia juga Yang Batin (tak tampak hakikat Zat-Nya), dan Dia. Maha Mengetahui segala sesuatu." Demikian Allah Swt. Karena itu wajar kita bermohon: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi anugerah" (QS 13: 8).

Sumber:
1. Tauhid & makna Syahadatain: Dr.Muh.Mu’inudinillah Basri, MA
2. Tauhid Uluhiyah : Yang Berhak Disembah; Abdul Aziz asy Syaukani
3. Wawasan alqur’an tentang Tuhan; Dr.M.Quraish Shihab, M.A.
4. Ringkasan aqidah dan manhaj imam asy-syafi'i: Al-Ustadz Nurul Mukhlishin Asyrafuddin, Lc., M.Ag
Selengkapnya...

MAKNA IBADAH DALAM ISLAM

       Setiap amalan atau pekerjaan yang bermanfaat pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat, memenuhi aturan dan syarat-syaratnya dari alqur’an dan hadist, maka akan menjadi ibadah yang diberi pahala oleh Allah SWT. Ibadah itu pada hakikatnya meliputi seluruh kehidupan manusia. (QS 51: 56; QS 6:162-163; QS 98:5).

Pengertian ibadah
       Ibadah berasal dari bahasa arab yang berarti ketaatan, penghambaan, dan penyembahan/ pengagungan. Dalam Al Quran Penggunaan kata Ibadah seperti: Ibadah yang bermakna ketaatan. (QS 36:60; QS 9:31), Ibadah yang bermakna penghambaan dan ketaatan. (QS 2:172; QS 26:22; QS 23:45-47), Ibadah yang bermakna pemujaan/ penyembahan. (QS 40:66; QS 46:5-6), Ibadah yang bermakna penghambaan, ketaatan dan penyembahan. (QS 20:14; QS 6:102; QS 12:40; QS 18:110).


      Membatasi makna Ibadah dengan hanya Taalluh (penyembahan) saja atau Al Ita'ah (ketaatan) saja atau Al Ubudiyyah (penghambaan) saja adalah tidak dibenarkan, karena ibadah dalam ayat-ayat qur’an tersebut mengandung tiga makna sekaligus yaitu penyembahan, ketaatan dan penghambaan yang hanya di tunjukkan kepada Allah saja tidak pada yang lain. Demikianlah makna Ibadah menurut bahasa berdasarkan kajian Abul A'la Al Maududi.

      Menurut Ibnu Taimiyyah bahwa: Ibadah adalah nama yang menggabungkan setiap perkara yang di sukai dan diridhoi Allah dari jenis perkataan atau perbuatan lahir batin. Selanjutnya beliau menyatakan: Maka sholat, zakat, puasa, haji, berkata benar, menunaikan amanah, berbakti kepada ibu-bapak, menghubungkan sillaturrahim, menepati janji, menyuruh kepada kebaikan, mencegah pada kejahatan, berperang menentang orang kafir dan munafik, anak yatim, orang miskin, musafir, hamba sahaya dan ihsan kepada binatang peliharaan, berdoa, berzikir, membaca Al Quran, semuanya itu termasuk sebahagian dari ibadat. Demikian pula cinta pada Allah dan cinta pada Rasul Nya, takut kepada Allah, merujukkan sesuatu kepada-Nya, memurnikan ketaatan kepada-Nya, bersabar menerima hukum-Nya, bersyukur atas segala karunia-Nya, ridha dengan qada’ dan qadar-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya dan takut pada azab siksa-Nya dan amalan-amalan lainnya semuanya itu termasuk 'Al Ibadah'.
      Menurut Doktor Ibrahim Al Buraikan, Ibadah adalah Nama yang mencakup segala sesuatu yang diridhoi Allah dan dicintai Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang lahir maupun batin, dengan penuh rasa cinta, kepasrahan (menyerah) dan ketundukan (taat) yang sempurna, serta membebaskan diri dari segala hal yang bertentangan dan menyalahinya.
      Sebagian Salaf berkata “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq , siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy . Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan muhabbah, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”
       Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa makna Ibadah menurut istilah ialah: Seluruh kegiatan lahir dan batin dalam pengamalan aqidah, syariah dan akhlak yang diikuti dengan rasa cinta kepada Allah swt. 

Syarat pengamalan ibadah

      Ibadah hanya diamalkan dengan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Diamalkan dengan ikhlas semata-mata untuk mencari ridha Allah ( QS 98:5)
2. Diamalkan dengan benar mengikut sunnah Nabi saw. Apabila ibadah diamalkan tidak mengikut sunnah    Nabi saw, maka ibadah itu tertolak 

Lingkup Ibadah dan Hubunganya dengan kehidupan
      Setiap perbuatan, perkataan manusia lahir dan batin yang disukai dan diridhoi oleh Allah swt. seperti membantu orang sakit, meringankan beban dan kesukaran hidup orang lain, memenuhi keperluannya, menolong orang yang teraniaya, mengajar dan membimbing orang yang lain adalah ibadah. Berkata benar, taat kepada ibu bapak, amanah, menepati janji, memenuhi hajat keperluan orang lain adalah ibadah.
       Menuntut ilmu, menyuruh perkara kebaikan dan mencegah segala kejahatan, berjihad, tolong menolong kepada sesama manusia, dan kepada binatang, berdoa, puasa, shalat, membaca al-Quran, itu pun adalah sebagian dari ibadah. Begitu juga cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, melaksanakan hukum-hukum Allah, sabar menerima ujian, bersyukur menerima nikmat, ridha terhadap qadha’ dan qadar-Nya dan banyak lagi kegiatan dan tindakan manusia yang termasuk dalam bidang ibadah. Ibadah dapat dibagi menjadi: 

1. Ibadah Itiqodiyah (keyakinan/ kepercayaan)
      Ibadah Itiqodiyah seperti Berkeyakinan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. (QS 47:19), Cinta kepada Allah (QS 2:165), Takut kepada Allah serta mengaharapkan rahmatnya. (QS 70:27-28), Inabah (kembali) kepada Allah (QS 39:54 ), Tawakal dan meminta pertolongan kepada Allah (QS 1:5; QS 64:13 )

2. Ibadah Qouliyah (lisan)
      Ibadah Qouliyah seperti Mengucapkan dua kalimah Syahadat, Zikir kepada Allah tasbih dan istighfar. (QS 33:41-42), Bersumpah dengan nama Allah, Berdoa dan minta pertolongan kepada Allah. (QS 40:60), Dakwah kepada Allah dan Amar makruf Nahi Mungkar (QS 41:33; QS 3:104)
3. Ibadah Amaliyah
       Ibadah Amaliyah seperti Mendirikan Solat (QS 98:5), Menunaikan Zakat (QS 2:110), Puasa Ramadhan (QS 2:183), Haji ke Baitullah bagi yang mampu (QS 3:97), Berhukum dengan hukum Allah (QS 12:40), Berjihad di jalan Allah (QS 2:216; QS 13:142), Bernazar untuk Allah (QS 76:7), Tawaf di Baitullah (QS 22:29).
      Selain itu Ibadah juga terbagi kepada Ibadah Mahdah (khusus) dan Ibadah Ghoir Mahdah:

a. Ibadah Mahdah yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah yang keseluruhan tatacaranya telah ditetapkan oleh Allah, Manusia tidak berhak mencipta/merekayasa bentuk ibadah jenis ini. para ulama menetapkan qaidah iaitu ‘Asalnya ibadah itu haram, terlarang’ (kecuali dengan perintah Allah dan petunjuk Muhammad saw). Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan Al Ibadah atau Al Ubudiyyah. Ibadah jenis ini seperti shalat, puasa, zakat, aqiqah dan qurban.
b. Ibadah Ghoir Mahdah yaitu segala jenis peribadatan kepada Allah dalam pengertian yang luas seperti  kenegaraan, ekonomi, pendidikan, sosial, hubungan luar negeri, kebudayaan, undang-undang kemasyarakatan, dan teknologi dan sebagainya. Ibadah jenis ini diistilahkan oleh para fuqaha dengan perkataan 'Al-Muamalah' (iaitu hubungan antara manusia dengan manusia). Peranan syara' dalam hal ini adalah memperbaiki sesuatu yang telah diadakan oleh manusia dan manusia dibenarkan mengada-adakan sesuatu yang selaras dengan hukum-hukum/ peraturan Allah (di dalam Al Quran dan As Sunnah) 
       Selain itu Ibadah juga terbagi pada Ibadah Fardiyah (perseorangan) dan Ibadah Jamaiyah (kewajiban secara bersama atau berjamaah).
a. Ibadah Fardiyah yaitu amalan ibadah yang menjadi kewajiban setiap orang, seperti sholat, zakat, haji dan sebagainya. Ibadah seperti ini dapat dilakukan di mana saja baik di dalam negara Islam atau di negara kafir.

b. Ibadah jamaiyah yaitu ibadah yang diwajibkan ke atas seluruh umat (sebagai kewajiban bersama). Sebagai contoh perlaksanaaan hukum hudud, hukum qishas dan sebagainya. 

      Penciptaan manusia mempunyai tujuan dan tugas risalah yang telah ditentu dan ditetapkan oleh Allah. Tugas dan tanggungjawab manusia, sebagaimana di dalam al-Quran yaitu melaksanakan ibadah, kepada Allah dan sebagai khalifah-Nya. Firman Allah swt. “Dan Aku Tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (QS 51: 56) dan “Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An’aam: 165)
      Tugas sebagai khalifah Allah ialah memakmurkan bumi ini dengan mentadbir serta mengurusnya dengan peraturan dan hukum Allah. Tugas beribadah kepada Allah dalam rangka melaksanakan segala aktivitas pengurusan bumi, tidak keluar dari panduan/ ketentuan Allah swt. dan dikerjakan dengan perasaan ikhlas dengan mengharap keridhaan Allah. Lembutkan hati/ sadarkan diri dan selalu direnungkan bahwa manusia terlahir hanya untuk beribadah kepada Allah.

      Allah yang menetapkan ibadah pada makhluk-Nya. Dia pulalah yang mengutus para Rasul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, Allah berfirman : “Sungguh Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan tinggalkan thoghut”. (An Nahl:36). Firman allah: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’:25)
       Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi, dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah inilah Allah mengutus para rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, mensyariatkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.
      Para nabi dan rasul-Nya menjadi contoh teladan yang paling baik kepada kita semua dalam setiap pekerjaan dan amalan, dijelaskan dalam l-Quran: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS 33: 21).
      Perbuatan seorang manusia itu mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali adalah berpindahnya dari satu kegiatan ibadah ke kegiatan ibadah yang lainya, oleh karena itu Sebaiknya kita berpikir sejenak setiap apa yang akan dilakukan oleh lisan, hati dan anggota tubuh kita, apakah yang dilakukan tersebut termasuk ibadah atau bukan, jika bukan ibadah maka tidak boleh dilakukan seperti menggunjing, mengumpat, sombong, riak ,angkuh, tidak ikhlas dll, karena Allah SWT melihat yang kita laksanakan, hadist  Rasulullah SAW dari Umar ra: “ …..Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihat engkau....”.( HR. Muslim).
      Selain itu apakah cara melakukan amal ibadah itu telah sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat ibadah dan amal sholeh yang sah. supaya kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri, dengan menyangka bahwa kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi dihadapan allah tidak demikian. wallahualam

Sumber:
1. al-ubudiyyah, ibnu taimiyah
2. ibadah di dalam islam; dr. yusuf qardhawi.
3. ibadah dalam syari’at islam , muhammad al-khaththath
4. konsep ibadah dalam islam, dr engku ahmad zaki
5. pengertian ibadah dalam islam, al-ustadz yazid bin abdul qadir jawas
6. Beberapa situs internet seperti http://ahmadsyakir.tripod.com/ . dll
Selengkapnya...

ILMU DAN JIHAD DAPAT MENEMUKAN JALAN LURUS

      “Dan orang yang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami .... (QS.al-Ankabut [29]: 69). Ayat ini menjelaskan bahwa jihad (kesungguhan) yang tulus di jalan Allah swt adalah syarat utama untuk memperoleh petunjuk dari allah. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan (balasan) ketakwaannya kepada mereka. (QS.Muhammad,47: 17).
      Dalam surat al-an’am ayat 153 Allah berfirman: “dan bahwa apa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”. Firman Allah ini secara tegas menyuruh kaum muslimin untuk mengikuti tuntunan agama seperti yang ada dalam kitab suci alqur'an dan sunnah Rasulullah SAW, agar dengan demikian dia menjadi orang yang benar-benar bertakwa.
      Ilmu adalah perantara yang mengatarkan kita pada kedekatan dengan Allah SWT, karena tujuan sejati dalam pencarian ilmu adalah pendekatan kepada-Nya. Orang yang berilmu adalah orang yang paling bertakwa. Dan barang siapa yang bertakwa maka Allah akan lebih mencurahkan ilmu-Nya.
      Sesungguhnya menuntut ilmu syar’i merupakan bagian rangkaian jihad. Karena agama islam ditegakkan dengan ilmu dan jihad di jalan Allah SWT.
      Diriwayatkan oleh Al Imam Al Hafidz Ya’qub bin Sufyan Al Fasawiy di dalam kitab Al Ma’rifah wa Tarikh dengan sanadnya dari Abu Darda’ ra, beliau berkata : “Tidaklah seseorang yang pergi ke masjid untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, melainkan ditetapkan baginya pahala seorang mujahid, tidaklah dia kembali (kerumahnya) kecuali tercukupi (kebutuhannya akan ilmu).”
      Di dalam kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadlihi hal 159 oleh Imam Ibnu Abdil Barr ra, beliau mengatakan : “Barangsiapa yang menganggap seseorang yang keluar di waktu pagi dan petang untuk menuntut ilmu bukan dikategorikan orang yang berjihad, maka sungguh telah kurang akal dan pikirannya.”
      Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah di dalam kitab Miftah Darus Sa’adah , beliau menyatakan : “Sesungguhnya dijadikan (perkara) menuntut ilmu termasuk di jalan Allah, karena dengannya akan tegak agama Islam sebagaimana tegaknya agama dengan jihad, maka kokohnya agama dengan ilmu dan jihad.”
      Al Imam Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya termasuk perkara-perkara di jalan Allah adalah jihad dan menuntut ilmu serta mendakwahi manusia kepada jalan Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, Mu’adz bin jabal ra berkata : “Hendaklah kalian menuntut ilmu. Sesungguhnya menuntut ilmu karena Allah adalah (perwujudan) rasa takut, mempelajarinya termasuk ibadah, menelaahnya adalah tasbih dan membahasnya merupakan jihad.”
      Diperlukan kecermatan dan kebersihan hati untuk dapat memenuhi perintah Allah, seperangkat ilmu diperlukan untuk dapat memahami perintah-Nya, dan mendalami maksud yang terkandung di dalamnya serta mengambil hikmat yang ada. Suruhan dan perintah Allah dijabarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
      Suruhan dan perintah itu sarat dengan rahasia dan hikmah yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang dekat dengan-Nya. Kedekatan hamba dengan Allah adalah karena ilmu dan takwanya. Mereka, yaitu orang-orang yang berilmu dan bertakwa yang benar-benar takut kepada-Nya.
       Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya Allah akan menerima (amalan) dari kalangan orang-orang yang bertakwa.” (Al Maidah : 27). Al Imam Ibnul Qoyyim menafsirkan ayat ini : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla hanyalah menerima amalan orang-orang yang bertakwa dengan amalan tersebut. Dan ukuran ketakwaan itu adalah ikhlas dengan mencocoki perintah-Nya, dan semua ini akan diperoleh dengan ilmu.”
      Sesungguhnya ilmu merupakan penuntun dan pembimbing suatu amalan. Amal perbuatan akan mencapai kesempurnaan apabila diarahkan dengan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan setiap amalan yang tidak didasari dengan ilmu maka tidak akan memberi manfaat bagi pelakunya, bahkan memberikan mudharat kepadanya. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf (para pendahulu yang shalih) : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka kekeliruannya lebih banyak daripada benarnya”. Dalam alqur'an allah berfirman melarang kita untuk melakukan sesuatu yang kita tidak ada ilmu tentangnya. Maka jangan  jadi pak turut, lakukanlah pendalaman tentang agama secara sungguh-sungguh, pahami penjelasan ulama-ulama terdahulu dari berbagai refrensi yang membahas tentang alqur'an dan hadist, jika telah dianalisis dan yakin, istiqomahlah  dijalan itu, semoga allah telah menunjukkan jalan yang lurus, seperti firman allah diatas.
      Membalikan fakta, yang benar dinilai salah dan yang salah dinilai benar.Yang salah didukung dan mendapat simpatik yang luas dikalangan masyarakat, sedang yang benar dan lurus dipojokkan dan dihujat. Jadilah orang yang salah itu sebagai panutan dan pemimpin umat, pembelaan terhadapnya diyakini sebagai perbuatan baik, terhadap hal ini Allah berfirman ; “maka apakah orang yang dijadikan setan menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini itu baik, sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakinya dan menunjukkan siapa yang di-kehendakinya, maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (Fathir: 8).
      Jika kondisi semacam itu dibiarkan, maka yang tinggal adalah orang-orang yang berani menafsirkan agama seenaknya sendiri,(tidak merujuk dari penjelasan ulama-ulama terdahulu) yang ada adalah orang bodoh yang tidak mengerti agama tetapi dijadikan panutan. Hal semacam ini pernah diingatkan oleh Rasulullah dalam suatu hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabutnya dengan mencabut para ulama’, sehingga ketika tidak ada orang alim yaitu orang yang memahami agama, maka mereka mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanyai dan memberi fatwa tanpa dasar ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan”. Rasulullah SAW bersabda: ’Jika suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya”.
      Dari pernyataan di atas, apabila taubat datang dari para hamba, mengikuti perintah-Nya, berjihad dan berusaha untuk mencari jalan lurus dengan ilmu yang bersumber dari alqur'an dan hadist, dan melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan (lutf) Ilahi akan mendatangi kehidupan mereka, akan menuntun mereka, dan akan mengantarkan mereka mencapai tujuan kehidupan.
       Semoga kita tidak termasuk golongan orang yang disebutkan oleh Allah dalam firmanNya: “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (Al-Kahfi: 103-104).

Disarikan dari:
1. Amal yang Diterima Allah , Penulis. Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah Zaen
2. Menimbang Amal, Oleh IMAM Al Jawi Al Atsary
3. ILMU DAN JIHAD Penulis: Al Ustadz Abu Abdirrahman Abdul Aziz As Salafy
4. Berhati-hati dalam beribadat H.M. Dahlan Ridlwan
5. Memaknai Jihad Secara Kaffah , KH. Didin Hafiduddin
6. Jihad Harus Didasari Ilmu, Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi
7. Keutamaan Ilmu Syar’i Dan Mempelajarinya, Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Selengkapnya...

TANGISAN ORANG BERIMAN

    Menangis bukanlah sebagai tanda kelemahan jiwa seorang yang menyebabkannya jatuh ke jurang kehinaan, namun justru sikap terpuji, yang mestinya terdapat pada diri setiap hamba Allah yang senantiasa berdiri pada dua tonggak kehidupan  yaitu khouf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap).
     Di masa sekarang, banyak yang mencela atau memandang rendah orang yang suka menangis ketika melihat orang lain beribadah semisal; sholat, membaca Al Qur’an, berdzikir.
      Seseorang yang tidak pernah menangisi dosa-dosanya kecuali telah mengeras hatinya, dan tidak pula menangis lantaran takut menghadapi beratnya hisab hari kiyamat kecuali ada rongga hatinya yang telah membatu. Imannya tidak beres, ketaqwaannya asal-asalan, dan menyangka amal kebaikannya telah memadai. Menangis karena Allah bukanlah karena cengeng dan remeh. Tapi menangis karena tabir jiwanya telah tersingkap akan hakekat makna kebesaran Allah ta’ala.


        Imam Al-Qurthubi berkata: cucuran air mata tergantung apa yang seorang hamba rasakan. Jika timbul karena rasa tunduk kepada keperkasaan Allah maka hal itu menjadi tangis karena takut kepada-Nya, dan jika timbul karena mengagumi dan mengharapkan keindahan-Nya maka hal ini karena rindu kepada-Nya.
        Firman allah SWT “ Katakanlah: Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’ “.(QS.17.107-109).
    Ayat ini menunjukkan kebaikan membaca tasbih dalam sujud. `Aisyah ra berkata: "Adalah Rasul saw banyak membaca dalam sujud dan rukuknya. Sifat orang ahli ilmu yang telah mencapai martabat yang mulia. Hatinya menjadi tunduk dan matanya mencucurkan air mata ketika Alquran dibacakan kepadanya. Mencucurkan air mata ketika mendengar atau membaca Alquran sangat terpuji dalam pandangan Islam. (Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Israa' 108-109)
    Imam Al-Qurthuby Ketika mentafsirkan surah Al-Israa ayat 109, menyebutkan bahwa kita dibolehkan menangis di dalam sholat, ayat tersebut sebagai dalilnya, dan tangisan tidak memutuskan atau mencemari sholat yang sedang kita lakukan.
    Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). “.(QS.5.83).
    Saat-saat kaum Nasrani itu mendengar ayat-ayat Alquran, mereka mencucurkan air mata karena sangat terharu dan yakin atas kebenaran Alquran yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. yang ternyata membenarkan kitab suci mereka dan mereka terharu pula oleh sifat-sifat Nabi Muhammad saw. yang telah mereka kenal sebelumnya dari kitab suci mereka. Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Maa-idah 83.
    Ibnu katsir saat menafsirkan “.(QS.5.83) diatas, menjelaskan dengan hadist dari ibnu abbas mengatakan, mereka adalah para petani yang bersama ja’far ibnu abu talib dari negeri habsyah. Ketika rasulullah membacakan alquran kepada mereka, lalu mereka beriman, dan airmata mereka bercucuran.
    Diriwayatkan dari 'Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw berkata: "Wahai 'Aisyah saya pada malam ini beribadah kepada Allah SWT". Jawab Aisyah ra: "Sesungguhnya saya senang jika Rasulullah berada di sampingku. Saya senang melayani kemauan dan kehendaknya" Tetapi baiklah! Saya tidak keberatan. Maka bangunlah Rasulullah saw dari tempat tidurnya lalu mengambil air wudu, tidak jauh dari tempatnya itu lalu shalat. Di waktu shalat beliau menangis sampai-sampai air matanya membasahi kainnya, karena merenungkan ayat Alquran yang dibacanya. Setelah shalat beliau duduk memuji-muji Allah dan kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian beliau mengangkat kedua belah tangannya berdoa dan menangis lagi dan air matanya membasahi tanah. Setelah Bilal datang untuk azan subuh dan melihat Nabi saw menangis ia bertanya: "Wahai Rasulullah! Mengapakah Rasulullah menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang terdahulu maupun yang akan datang". Nabi menjawab: "Apakah saya ini bukan seorang hamba yang pantas dan layak bersyukur kepada Allah SWT? Dan bagaimana saya tidak menangis? Pada malam ini Allah SWT telah menurunkan ayat kepadaku. Selanjutnya beliau berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".(Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 190)
    Terkadang tangisan beliau sebagai bentuk ungkapan kasih sayang terhadap orang yang meninggal atau pula sebagai ungkapan rasa kekhawatiran dan belas kasih terhadap umatnya dan kadang karena rasa takut kepada Allah atau ketika mendengar Al-Qur'an. Yang seperti itu adalah tangisan yang timbul dari rasa rindu, cinta dan pengagungan bercampur rasa takut kepada Allah.( Zadul Ma'ad 1/183.)
    Dari Ibnu Mas’ud ra Rasulullah bersabda kepadaku: “Bacakanlah kepadaku Al Qur’an. Aku menjawab, “Ya Rasulullah bagaimana aku akan membacakan Al Qur’an kepadamu, padahal kepadamulah Al Qur’an itu telah diturunkan. Rasul bersabda: “Aku suka mendengar Al Qur’an itu dibaca oleh orang lain. Maka aku membaca surat An Nisa’ sampai kepada ayat fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bi syahidin waji’na bika ‘ala haaulai syahidan (bagaimanakah bila Kami telah mendatangkan engkau (Rasulullah) sebagai saksi atas semua mereka itu?) Rasulullah bersabda, “ Cukuplah bacaanmu itu Ibnu Mas’ud. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “maka aku menoleh pada Nabi, maka kulihat mata Nabi berlinang basah oleh air mata. (HR. Bukhari Muslim)
    Sabda Nabi SAW, "Tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Swt. pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, diantara mereka itu adalah; seorang laki-laki yang mengingat Allah Swt. dikala sendiri kemudian mengalir deraslah air matanya." (Muttafaq `Alaihi).
    Allah memuji orang yang menangis karena takut siksa-Nya dengan menjamin keamanan baginya. Mereka tersungkur dan bersujud seraya mencucurkan air mata karena perasaan tunduk dan patuh kepada Allah. Mereka mendengar ayat dengan sikap mengagungkan sehingga memberi pengaruh dalam jiwanya berupa iman, harapan, rasa takut, yang kesemuanya mengharuskan menangis serta memohon ampun kepada Robb semesta alam.
    Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah, sehingga air susu kembali ke putingnya, dan tidak akan dapat bersatu debu saat berjihad fisabillah dengan asap neraka jahannam”. (HR. Tarmidzi)
    Hadits ini mengungkapkan bahwa mustahil bagi seseorang yang pernah menangis berurai air mata karena takut kepada Allah saat di dunia, bakal dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah Azza Wa Jalla di hari kiamat.
Dari kitab terjemah Riyadhus Shalihin karangan Imam Nawawi, menukil sebuah hadits sebagai berikut: Artinya: Dari Abbdullah bin Asy-Syikkhir r.a., dia berkata: “Saya mendatangi Rasulullah SAW sedangkan beliau sedang shalat, dan di dalam perutnya terdengar suara seperti suara air sedang mendidih, saat beliau menangis.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
    Beliau menangis karena lagi berhadapan dengan Allah, lagi berbicara dengan Allah, tiba-tiba timbul rasa takut di hadapan Sang Pencipta. Dia takut kalau salah di mata Penciptanya. orang tidak akan menangis dalam shalat kalau konsentrasinya kurang. orang menangis karena mengerti bacaan-bacaannya. Kalau tidak mengetahui isi yang dibacanya bagaimana dia bisa menangis? . misalnya dalam Shalat bukan untuk dihafal, tapi dipelajari, dan dimengerti. Shalat adalah komunikasi kita dengan Allah. Tidak ada komunikasi dengan bahasa yang tidak dimengerti. (Dr. H. Rusli Hasbi, MA)
     Abu Umamah ra berkata, Rasulullah bersabda, “Tiada sesuatu yang lebih disukai Allah melainkan dua tetes dan dua bekas; Tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. pertolongan pada hari kiyamat nanti adalah orang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu air matanya berlinangan. Berkenaan dalam hal ini, Ka'ab al-Ahbar berkata: ”menangis karena Allah lebih aku sukai dari pada bersedekah dua kilogram emas”
    Rasulullah pernah memberi nasehat dengan teramat menyentuh hati, sehingga hati para sahabat bergetar, nafas-nafas mereka bersenggukan, tak kuasa membendung air mata di saat mendengarnya: “aku nasehatkan kepada kalian agar selalu bertaqwa, mendengar serta taat”, sehingga salah satu dari mereka berkata: Ya rasul, ini seolah-olah nasehat perpisahan antara kami dan engkau (HR Abu Dawud: 4607).
    Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).
    Ketika turun wahyu nabi tertunduk, demikian juga para sahabat yang bersamanya. Setelah selesai beliau baru mengangkat kepala kembali. Kemudian Anas bin Malik berkata: “suatu ketika kami berada di majelis rasulullah, maka di antara kami antusias bertanya mengenai beberapa hal kepada nabi. Lalu sejenak majlis itu terdiam haru. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, ternyata aku melihat setiap manusia menempelkan wajah-wajah mereka ke pakaiannya sembari menangis tersedu-sedu” (Bukhori-Muslim)
    Di saat rosulullah SAW berkhutbah: ”Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak menangis”, Maka Anas bin Malik berkata: “kami semua sangat tesentak dengan sabda ini dan aku melihat para sahabat menutupkan surban-surban mereka ke wajah sambil menangis terisak-isak. Seakan-akan tiada hari yang lebih menyedihkan melebihi hari itu. Lalu Umar ra berdiri sementara nafasnya masih menahan tangis seraya berucap: “kami ridho Allah sebagai Robb, kami ridho Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku” (HR Tirmidzi : 2312).
    Saat Rasulullah sakit keras dan tidak dapat mengimami sholat dengan para sahabat, saat itu Rasulullah memerintahkan Abu Bakar Siddiq ra menjadi imam atas para Sahabat. Siti Aisyah ra menceritakan bahwa jika Abu Bakar berdiri sebagai imam menggantikan Rasulullah maka beliau akan menangis keras sekali sehingga bacaan qur’annya tertutup (tidak terdengar oleh para Sahabat) karena suara tangisannya itu. (HR. Bukhari Muslim).
    Abu Bakar adalah orang yang mudah menangis tatkala membaca Al-Qur’an. Di saat mengganti nabi sebagai imam, ia tak kuasa menahan tangisnya dalam sholat. Tidaklah Abu Bakar dan Umar menunaikan sholat, kecuali sering terlihat bekas tangisnya yang membasahi janggut dan baju mereka. Seorang Umar, meskipun ia sosok yang tegas namun mudah luluh hatinya dengan kebenaran Al-Qur’an. Diriwayatkan bahwa Umar pernah mengimami manusia membaca surat Al-Muthoffifin dan tangisnya terdengar hingga sampai shof ketiga (HR. Bukhori).
    Abu Bakar r.a dikenal sebagai seorang sahabat al-bakka` yaitu orang yang sering menangis. Aisyah r.a berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang hatinya lembut, apabila ia membaca al-Qur`an ia selalu menangis."
    Salah satu golongan yang mendapat pertolongan pada hari kiyamat nanti adalah orang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu air matanya berlinangan. Berkenaan dalam hal ini, Ka’ab al-Ahbar berkata: ”menangis karena Allah lebih aku sukai dari pada bersedekah dua kilogram emas”.
    Imam Malik bin Anas sebagai imam di Madinah, shalat malamnya sangat menakjubkan. Asyhab bin Abdul Aziz pernah menceritakan, “Aku pernah keluar pada suatu malam ketika orang-orang telah tertidur. Aku melewati rumah Malik bin Anas. Dia tidak tidur, tetapi mengerjakan shalat. Seusai membaca surah al-Fatihah, ia membaca surah at-Takatsur. Ketika sampai pada ayat terakhir, “Kemudian kau pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan [yang kamu megah-megahkan di dunia ini]” ia menangis lama sekali. Ia ulangi lagi surah tersebut dan menangis lagi. Lamanya tangis Malik bin Anas yang aku dengar itu telah membuat aku lupa pada kebutuhan yang aku tuju. Ia tetap saja berdiri dan mengulang-ulang ayat tersebut sambil menangis sampai fajar terbit. Ketika fajar telah tampak, ia baru rukuk. Aku pun pergi meninggalkan dia dan pulang ke rumah. Lalu aku mengambil air wudhu dan pergi ke masjid. Tiba-tiba Malik sudah ada di tempat duduknya di masjid bersama orang-orang lainnya. Pada waktu pagi, aku melihat wajahnya bersinar.” (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalat wa at-Tahajjud).
     Keutamaan menangis karena Allah sangatlah banyak, namun manusia yang mampu amatlah sedikit. Sebab yang dicari manusia kebanyakan adalah bahan-bahan humor, canda tawa, senda gurauan dan bersenang-senang. Maka sempatkanlah menangis karena takut kepada Allah, jika kalian tetap tidak bisa menangis maka berusahalah supaya menangis. Ibnu Qoyyim berkata: berusaha menangis itu ada dua macam; terpuji dan tercela. Terpuji jika membangkitkan rasa takut dan kelembutan hati, tercela jika menimbulkan riya’ dan sum’ah. Suatu ketika Ibnu Qoyyim melewati orang yang sedang membaca al-Qur.an dengan menangis, namun ketika beliau melaluinya ia menjadi menangis keras-keras. Lalu beliau berkata: tadi orang ini membaca Al-Qur’an dan menangis karena Allah, adapun berikutnya karena syetan”
    Hidup dan lembutnya hati karena sebab menangis, matinya hati lantaran banyak bicara yang tidak bermanfaat, lalai dan terbahak-bahak. Menangislah karena menyadari kebesaran kerajaan Allah SWT. Menangislah karena terlampau banyak kelalaianmu dari pada dzikir kepada-Nya, menangislah karena masih teramat sedikit amal yang kita peruntukkan kepada-Nya, masih teramat kurang cinta ini kepada-Nya, betapa masih sangat sedikit kepatuhan ini kepada-Nya. Padahal sudah teramat besar dan luas belas kasih-Nya kepada kita. Menangislah sebelum tibanya hari yang tiada guna lagi penyesalan dan tangisan. Berusahalah menangis semata-mata karena-Nya, sebab di sana ada kebahagian. [Ust. Abu Hasan Ali Halaby ]
    Seorang Tabi’in berkata : “siapa diberi ilmu dan tidak membuatnya menangis maka lebih baik baginya untuk tidak diberi ilmu, karena Allah telah menerangkan bahwa sifat orang yang berilmu itu adalah menangis”. (Riwayat Ad-Daraami).
    Ilmu akan mengantarkan seseorang untuk beriman, dan iman pula akan membuat hati seseorang itu menjadi lembut, dan hati yang lembut akan membuat seseorang itu mudah menangis. Jadi, menangis adalah sebagai tanda kelembutan hati.
Wallahu a`lam bish-showab


Disarikan dari:
1. “Menangis Adalah Sunnah Dalam Islam”. Tengku zulkarnain
2. “Nikmatnya Menangis Karena Allah”.Abu Hasan Ali Halaby
3. “Petunjuk Nabi SAW Dalam Menangis”. Abdullah bin Ibrahim Al-Haidan
4. “Riyadhus Shalihin “. Imam Nawawi. Jilid 1
4. “Ubay dan Tangis Rasulullah”, Dr. H. Rusli Hasbi, MA
5. “Zadul Ma'ad ‘. Ibnu Qoyyim
6. www.marifassalman. multiply.com dan dari beberapa situs lain.
Selengkapnya...
 
Ilham Melyundra - Rizki Melyundra - Tamy Choirunnisa